KUPANG, TENGGARAPOST.ID — Universitas Nusa Cendana Kupang (Undana) mendorong konservasi terumbu karang dan pengembangan bioaktif di Pulau Semau Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Melalui program bertajuk Bioprospeksi Laut Berbasis Komunitas, Tim Undana melakukan penelitian sekaligus pengabdian masyarakat di Desa Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang.
Aktivitas penelitian dan pengabdian masyarakat itu didanai oleh melalui Yayasan Konservasi Indonesia program Kerjasama Indonesia dan Amerika dengan program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Action (TFCCA), sebagai bagian dari upaya mendukung konservasi sumber daya pesisir sekaligus pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Program tersebut dipimpin Prof. Yuliana Salosso, S.Pi., M.P., dengan anggota tim peneliti berasal dari multidisiplin dengan kompetensi sesuai bidang keahlian masing-masing, guna mendukung pelaksanaan penelitian dan pengembangan inovasi berbasis sumber daya laut.

Dalam diskusi bersama masyarakat Desa Uiasa yang dihadiri sekitar 50 kepala keluarga (KK), tim peneliti memaparkan tujuan program, potensi pengembangan produk bioaktif, serta pentingnya konservasi ekosistem laut sebagai dasar pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Kepala Desa Uiasa, Egel Laiskodat menyambut baik pelaksanaan kegiatan itu dan menyampaikan harapannya agar program tersebut dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan lapangan kerja baru yang mampu meningkatkan perekonomian desa dan kesejahteraan masyarakat Uiasa,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat tinggi selama diskusi berlangsung. Warga berharap melalui penelitian, dapat dihasilkan tiga produk unggulan khas Desa Uiasa yang memanfaatkan kandungan bioaktif dari biota laut lokal sebagai bahan dasar produk bernilai ekonomi, seperti produk body care, makanan, dan minuman.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan sampel berbagai biota laut di kawasan pesisir Desa Uiasa, meliputi makroalga, lamun, biota yang berasosiasi di sekitar pantai, serta sampel terumbu karang.

Kegiatan pengambilan sampel ini turut dimonitor langsung oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT, sebagai bentuk pengawasan dan dukungan terhadap penelitian berbasis konservasi.
Menurut Prof. Yuliana Salosso, pendekatan bioprospeksi berbasis komunitas ini tidak hanya berorientasi pada penelitian, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga ekosistem laut sekaligus memanfaatkan potensinya secara berkelanjutan.
“Sumber daya laut NTT memiliki kekayaan senyawa bioaktif yang besar. Melalui penelitian ini kami ingin mengidentifikasi potensi tersebut, sekaligus mendorong lahirnya inovasi produk unggulan berbasis masyarakat yang tetap berpijak pada prinsip konservasi,” jelasnya.
Selanjutnya, sampel yang telah dikumpulkan akan diidentifikasi di laboratorium untuk menganalisis kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk inovatif, mulai dari produk perawatan tubuh, pangan fungsional, hingga minuman berbasis bahan alami.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan ekonomi biru (blue economy) di Desa Uiasa, dengan mengintegrasikan konservasi terumbu karang, riset bioprospeksi laut, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Melalui kolaborasi antara akademisi, masyarakat, pemerintah desa, dan lembaga konservasi, Desa Uiasa diharapkan dapat menjadi model pengembangan bioprospeksi laut berbasis komunitas di NTT yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (hms/tgr01)








Komentar