KUPANG, TENGGARAPOST.ID — Wali Kota Kupang, dr Christian Widodo mengajak warga untuk terus menyalakan harapan di tengah situasi bangsa saat ini.
Ajakan itu disampaikan Wali Kota saat memimpin apel HUT ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Apel Kantor Wali Kota pada Minggu, 17 Agustus 2025 pagi.
Wali Kota mengajak seluruh warga untuk terus melanjutkan semangat kemerdekaan dengan menghadapi tantangan zaman secara jujur dan berani.
“Bung Karno pernah berkata, perjuanganku lebih mudah karena aku mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu lebih berat karena kamu akan melawan bangsamu sendiri,” ungkap dr Christian Widodo.
Menurutnya, ancaman zaman ini bukan lagi datang dari luar, tetapi dari dalam: kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan ketidakadilan. Namun, dia menegaskan, kuncinya adalah menjaga harapan agar tetap hidup.
“Tanpa makan kita bisa bertahan sebulan. Tanpa air kita bisa bertahan beberapa hari. Tanpa napas, paling lama 24 menit. Tapi tanpa harapan, kita sebenarnya sudah mati,” tegas dia.
Pada kesempatan itu, Wali Kota juga memaparkan sejumlah langkah nyata yang telah diambil dalam 100 hari pemerintahannya.
Di bidang kesehatan, pemerintah mengalokasikan dana darurat sebesar Rp3 miliar di bidang kesehatan untuk memastikan bahwa semua warga mendapatkan pelayanan saat kondisi gawat darurat, tanpa terkendala administrasi.
“Tidak boleh ada nyawa yang hilang hanya karena urusan administrasi,” ujar dr. Christian.
“Kalau ada yang butuh pertolongan darurat, langsung ke IGD. Tolong dulu, urus administrasinya nanti. Tapi tentu, jangan batuk pilek lari ke IGD.”
Di bidang kebersihan, Pemerintah Kota Kupang juga mendorong peningkatan pengelolaan sampah dengan memberikan insentif bagi petugas kebersihan, termasuk di hari Sabtu dan Minggu.
Lewat Lomba Kebersihan Antarkelurahan, pemerintah juga memberikan penghargaan dalam bentuk pembangunan infrastruktur langsung di kelurahan yang menang, mulai dari Rp300 juta hingga Rp1 miliar. Hadiah tunai juga diberikan oleh komunitas Beta Bersih dan Dinas Lingkungan Hidup.
“Pembangunan ini bukan untuk kelurahan saja, tapi kembali kepada masyarakat. Karena yang menjaga lingkungan bersih adalah kita semua,” tambahnya.
Di sektor ekonomi, Wali Kota menyoroti perkembangan kegiatan “Saboak Koepan” atau Sunday Market Buat Orang Kupang di Taman Nostalgia, yang kini menjadi pusat UMKM yang aktif dan ramai dikunjungi.
“Sekarang, setiap Sabtu dan Minggu, ada perputaran uang sekitar 300 juta di taman itu. Taman bukan sekadar hiasan, taman harus hidup, harus bernyawa,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa pemerintah tidak hanya memberi bantuan langsung, tapi juga mendorong legalitas bagi pelaku UMKM.
“Kami tidak hanya bantu sekali lewat dana. Kami urus izinnya dari hulu, supaya bisa akses bantuan dari Jakarta, dari lembaga-lembaga lain. Hari ini sudah ada 669 UMKM yang legal,” jelasnya.
Di bidang sosial, bantuan beras untuk puluhan ribu keluarga telah disalurkan. Pemerintah juga menyediakan liang lahat gratis bagi keluarga kurang mampu yang mengalami kedukaan.
“Kalau dulu harus bayar 2 sampai 3 juta untuk gali liang lahat, sekarang keluarga bisa dibantu oleh pemerintah kota. Hubungi Dinas Sosial, nanti kami bantu,” jelas Wali Kota.
Menutup sambutannya, Wali Kota menyampaikan bahwa seluruh capaian tersebut hanya mungkin dicapai dengan kolaborasi berbagai pihak. Ia mengutip Bung Hatta, “Indonesia bercahaya bukan karena obor di Jakarta, tetapi karena lilin-lilin yang dinyalakan di desa-desa.”
“Kota Kupang hari ini bukan bercahaya karena obor di kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang menyala di dinas, kelurahan, RW, RT, dan rumah-rumah warga,” ujarnya.
“Sendirian kita hanya setetes air, tapi bersama-sama kita satu samudra luas.”
Turut hadir dalam upacara tersebut, Wakil Wali Kota Serena C. Francis, S.Sos., M.Sc., Ketua dan Wakil-wakil Ketua serta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Kupang, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Kupang, Pimpinan Instansi Vertikal Lingkup Kota Kupang, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kupang, pejabat daerah dan perwakilan masyarakat. (Prokopim Kota Kupang)








Komentar