KUPANG, TENGGARAPOST.ID — Pemerintah Kota Kupang berkomitmen untuk mendirikan Pusat Layanan Autis di wilayah itu.
Komitmen itu disampaikan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo di GMIT Paulus Kupang, Sabtu 2 Agustus 2015 sore.
Dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pola Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus yang digagas Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Difabel GMIT Paulus bersama Badan Hari Raya Gerejawi, Wali Kota menyampaikan bahwa pemerintah siap berkolaborasi dengan gereja.
“Saya sudah sampaikan kepada Ibu Aki Kala, silakan buat proposalnya. Kita jalan bersama ke kementerian, kita ketuk satu per satu pintu, untuk anak-anak autis kita. Mereka juga punya hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang,” ungkap dr. Christian.
Langkah tersebut menandai babak baru kolaborasi strategis gereja dan pemerintah dalam menyediakan layanan inklusif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Menurut Wali Kota, gagasan membentuk pusat layanan ini bukan sekadar wacana, tetapi panggilan nyata.
“Anak-anak autis bukan hanya tanggung jawab orang tua. Masyarakat juga harus tahu cara menangani tantrum mereka, sama seperti kita diajari bantuan hidup dasar untuk orang yang terkena serangan jantung. Ini bentuk tanggung jawab sosial bersama,” tandasnya.
Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pdt. Delviana Poyck–Snae, dalam suara gembalanya juga menyampaikan harapan besar terhadap janji iman Wali Kota.
“Saya aminkan sebagai komitmen iman. Gereja siap bergandengan tangan dengan pemerintah untuk mewujudkan fasilitas yang layak bagi saudara-saudara berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Menurut Pdt. Delviana, GMIT Paulus menjadi satu-satunya jemaat di Kota Kupang yang telah memiliki UPP difabel secara khusus.
“Ini bukan hanya pelayanan karitatif. Gereja tidak boleh hanya memberi belas kasih lewat kata-kata, tapi harus menyediakan ruang nyata bagi saudara-saudara difabel agar menjadi subjek aktif dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus pengurus Badan Hari Raya Gerejawi (BHRG), Aki Kala mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan nyata yang ditunjukkan oleh Wali Kota dan pihak gereja.
“Hari ini kami tidak merasa sendiri. Kami tahu, ada pemimpin yang memberi hati untuk perjuangan kami orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus,” tuturnya.
Kegiatan bimtek yang dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan jemaat, masyarakat umum, dan instansi pemerintah ini menghadirkan psikolog anak sebagai narasumber, serta diisi dengan sesi praktik langsung penanganan tantrum pada anak autis di lingkungan pelayanan gereja dan sosial. (hms/tgr)








Komentar