GESER UNTUK MEMBACA
Editorial
Beranda » OPINI Hari Raya di Tengah Tekanan Daya Beli

OPINI Hari Raya di Tengah Tekanan Daya Beli

Oleh Ricky Ekaputra Foeh
Dosen FISIP UNDANA

Setiap menjelang Idulfitri, Natal, atau Tahun Baru, denyut ekonomi Indonesia meningkat tajam. Pasar tradisional padat, pusat perbelanjaan penuh, arus mudik melonjak, dan transaksi digital mencatat rekor musiman. Secara visual, ekonomi tampak bergairah.

Dalam struktur ekonomi nasional yang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB)-nya ditopang oleh konsumsi rumah tangga, lonjakan ini sering dibaca sebagai sinyal kesehatan ekonomi.

Namun pertanyaan mendasarnya tidak pernah sederhana: apakah keramaian konsumsi itu benar-benar mencerminkan daya beli yang menguat, atau sekadar ekspresi belanja musiman yang ditopang pencairan Tunjangan Hari Raya, tabungan jangka pendek, dan kredit konsumtif?

NTT Komitmen Percepat Transisi Energi Nasional EBT

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil di kisaran 5 persen. Inflasi nasional juga berada dalam rentang target 2,5±1 persen. Secara agregat, stabilitas makro terjaga.

Nilai tukar relatif terkendali, defisit fiskal berada dalam batas aman, dan sektor keuangan cukup solid. Di atas kertas, tidak ada gejala krisis.

Akan tetapi, stabilitas makro tidak selalu identik dengan ketahanan mikro. Di tingkat rumah tangga, terutama di wilayah dengan struktur ekonomi yang belum terdiversifikasi seperti Nusa Tenggara Timur, tekanan terasa lebih nyata.

Inflasi tahunan di NTT pada awal 2026 berada di atas 3 persen, dengan beberapa kota mencatat angka lebih tinggi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Bagi rumah tangga yang sebagian besar pengeluarannya dialokasikan untuk kebutuhan dasar, kenaikan beberapa persen bukan sekadar statistik. Ia mengurangi ruang belanja riil.

Man City Juara Piala Liga, Brace O’Reilly Paksa Arsenal Perpanjang Puasa Gelar

Struktur ekonomi NTT memperlihatkan ketergantungan yang kuat pada konsumsi rumah tangga. Sekitar dua pertiga Produk Domestik Regional Bruto daerah ini ditopang oleh komponen konsumsi.

Sektor industri pengolahan belum menjadi motor utama, ekspor masih terbatas, dan kapasitas hilirisasi rendah. Dalam struktur seperti ini, daya beli bukan hanya isu kesejahteraan, melainkan fondasi pertumbuhan itu sendiri. Ketika konsumsi melemah, pertumbuhan cepat melambat.

Pola konsumsi memperjelas kerentanan tersebut. Proporsi pengeluaran untuk makanan dan minuman di NTT masih relatif tinggi dibanding wilayah dengan tingkat industrialisasi lebih maju.

Dalam kerangka Hukum Engel, tingginya porsi belanja pangan menunjukkan tingkat pendapatan yang belum cukup tinggi untuk mendorong diversifikasi konsumsi. Konsekuensinya jelas: setiap kenaikan harga beras, daging, telur, cabai, minyak goreng, atau gula langsung berdampak signifikan pada kesejahteraan.

Menjelang hari raya, tekanan harga pangan hampir selalu muncul karena faktor musiman dan distribusi.

Kupang Bertakbir III Meriah, Simbol Pesta Keberagaman NTT

Dalam konteks kepulauan seperti NTT, biaya logistik memainkan peran krusial. Gangguan pasokan atau kenaikan tarif transportasi segera diterjemahkan menjadi kenaikan harga di tingkat konsumen.

Ketika permintaan meningkat secara serentak, tekanan menjadi berlipat. Stabilitas inflasi nasional tidak otomatis menjamin stabilitas harga di wilayah periferal.

Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) memberikan gambaran tambahan. Dalam beberapa bulan terakhir, NTP NTT berada sedikit di atas angka 100.

Secara teknis, ini berarti harga yang diterima petani relatif lebih tinggi dibanding harga yang mereka bayarkan. Namun margin tersebut tipis dan rentan. Kenaikan biaya pupuk, benih, atau distribusi dapat dengan cepat menggerus posisi tersebut.

Di sisi lain, jika harga pangan naik lebih cepat daripada harga hasil produksi petani, keuntungan riil tidak banyak berubah. Bagi daerah yang basis ekonominya masih agraris, fluktuasi kecil dapat berdampak luas terhadap daya beli rumah tangga.

Tingkat kemiskinan di NTT memang menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi masih berada di atas rata-rata nasional. Artinya, proporsi rumah tangga rentan masih besar.

Mereka tidak tergolong miskin ekstrem, tetapi belum memiliki bantalan keuangan yang cukup untuk menyerap guncangan harga. Dalam situasi ini, kenaikan harga menjelang hari raya mendorong penyesuaian perilaku: pengurangan konsumsi non-esensial, penggunaan kredit jangka pendek, atau pengalihan anggaran dari kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.

Secara agregat, konsumsi mungkin tetap tumbuh. Namun kualitas kesejahteraan tidak serta-merta membaik.

Keramaian pusat belanja dan lonjakan transaksi digital kerap menciptakan ilusi kemakmuran. Padahal, peningkatan volume transaksi tidak identik dengan peningkatan daya beli riil.

Konsumsi yang dibiayai oleh kredit atau penarikan tabungan tidak mencerminkan penguatan pendapatan berkelanjutan. Setelah momentum musiman berlalu, rumah tangga kembali melakukan pengetatan. Pola ini menunjukkan pertumbuhan yang bersifat temporer, bukan struktural.

Dalam konteks global, proyeksi International Monetary Fund menempatkan pertumbuhan ekonomi dunia di kisaran 3 persen. Dunia tidak berada dalam resesi, tetapi juga belum kembali pada fase ekspansi tinggi.

Volatilitas harga energi dan pangan masih menjadi risiko, ditambah fragmentasi perdagangan dan ketegangan geopolitik. Bagi wilayah seperti NTT yang sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah, transmisi tekanan global melalui jalur harga dan distribusi sulit dihindari.

Karena itu, menjaga daya beli tidak cukup dilakukan melalui pengendalian inflasi agregat semata. Kebijakan perlu lebih terarah pada penguatan sisi penawaran dan peningkatan pendapatan riil.

Penguatan sistem distribusi pangan di wilayah kepulauan menjadi keharusan, termasuk pembangunan cadangan logistik daerah yang efektif. Produktivitas pertanian perlu ditingkatkan melalui perbaikan irigasi, akses pembiayaan, dan teknologi.

UMKM lokal harus diperkuat agar rantai nilai tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan luar wilayah. Diversifikasi ekonomi menjadi agenda jangka menengah yang tidak dapat ditunda.

Pertumbuhan yang berkualitas menuntut transformasi struktur ekonomi, bukan sekadar akselerasi konsumsi musiman. Jika komposisi PDRB tetap didominasi konsumsi tanpa ekspansi basis produksi, setiap tekanan harga akan kembali menguji ketahanan rumah tangga. Dalam struktur seperti itu, hari raya memang mengangkat aktivitas ekonomi, tetapi juga sekaligus memperlihatkan batas-batasnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi tidak berhenti pada angka pertumbuhan 5 persen atau inflasi yang terkendali dalam target.

Ukurannya terletak pada kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan tanpa kecemasan berlebih. Hari raya adalah momen refleksi paling jujur. Jika setiap perayaan besar selalu dibarengi kekhawatiran terhadap harga dan pendapatan, maka pertumbuhan masih bersifat dangkal.

Ekonomi yang sehat bukan hanya ekonomi yang tumbuh, tetapi ekonomi yang terasa. Ia hadir dalam kepastian harga, stabilitas pendapatan, dan ketenangan keluarga menyambut hari raya tanpa tekanan finansial. Jika itu belum terwujud secara merata, maka pekerjaan pembangunan belum selesai. (*)

Dosen Fisip Undana Kupang, Ricky Ekapytra Foeh. (DOK PRIBADI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

01

Kembang Kempis Mimpi Daerah Otonomi Baru di NTT

02

Kanwil Imigrasi NTT Kunjungi Seminari Tertua di Nusa Tenggara

03

Tiga Jagoan Rebut Kursi Sekda NTT, Siapa Pilihan Laka Lena?

04

Pameran Pembangunan NTT Rampung Digelar, Warga Membludak, Transaksi Diklaim Capai 3 Miliar

05

Mengenal 11 Negara Asia Tenggara, Indonesia hingga Timor Leste

06

Festival Muro Lembata: Merayakan Tradisi Masyarakat Adat Menjaga Laut

Hari Pers Nasional 2026

IKLAN HPN 2026 - Pemprov NTT

Hari Pers Nasional 2026

Iklan HPN 2026 Pemerintah Kota Kupang

Hari Pers Nasional 2026

IKLAN HPN 2026 Lanud EL Tari Kupang

Hari Pers Nasional 2026

IKLAN HPN 2026 Hotel Swiss Bell Court Kupang

Hari Pers Nasional 2026

IKLAN HPN 2026 Hotel Meruorah Labuan Bajo

We Start Reporting Today

WE START REPORTING TODAY